24
Meliukkkan seluruh bulu yang ada di sekujur tubuh, selalu
itu yang kau gunakan untuk memikatku. Menggunakan aji-aji apa kamu, sampai aku
mau menyentuh perutmu yang penuh bulu halus?. Aku berpikir, kamu menyentuh raga
bukan sekedar raga, tapi jiwa yang kau balut senja. Indah bukan?
Di ruang ini hanya kita berdua. Ulat dan kunang-kunang.
Di ruang ini hanya kita berdua. Ulat dan kunang-kunang.
Ruangan ini gelap.
Tapi aku mampu memberi cahaya di kornea matamu dengan tubuhku sendiri.
Kau tarik
pergelangan tangan ku yang bisa rapuh kapan saja jika terlalu keras kau tarik.
Tulus. Ku jambak bulu yang membalut tubuhmu sampai kau rasakan ada tanganku
mengulum bulumu.
Terjengkal kala itu dalam bulu yang menutupi dadamu. Kau beri rasa mocca di lidahku kala ku raba bulumu. Aku tahu bukan aku yang seharusnya mencicipi nice mocca karena bulumu.
Mata ku yang besar
mencari dirimu di penjuru kegelapan ini. Abadi memori tentang preambule yang
kau lontarkan, saat aku terpaku, tertegun melirik matamu.
“jadilah kunang
dalam derap nafasku” sahutmu
“apa harus ku koyak
langit?” bantah ku
“ langit kan menerima jasadmu menyatu dengan jasadku. Hembuskan nafasmu lewat paru-paruku. Alirkan berjuta hemoglobin yang kau balut senja ke tubuhku. Ku ingin kecup itu.”
“ langit kan menerima jasadmu menyatu dengan jasadku. Hembuskan nafasmu lewat paru-paruku. Alirkan berjuta hemoglobin yang kau balut senja ke tubuhku. Ku ingin kecup itu.”
Terdiam. Kelu
rasanya menerima koyakan darimu.
Tapi apalah yang
diterima. Hujan pun tak merestui.
Ku usap segala
ujaranku. Tertunduk ku dibawah kakimu. Menghambamu. Ya, aku menghambamu. Luluh
karena ujaranmu. Kau pekat dalam beningku. Tapi aku tak dapat memiliki bulumu.
Hanya mampu mencicipimu.
Berjuta caramel
leleh saat di depan para hantu, kau dekap aku dengan bulumu. Hangat. Tapi
apalah, bulumu bukan milikku.
Aku selalu bergumam
“bukan lelucon kah ini?”
tapi kekonyolan itu kau rimbakkan dengan-sekali lagi dengan bulumu-ini.
tapi kekonyolan itu kau rimbakkan dengan-sekali lagi dengan bulumu-ini.
Dengan alunan nada
ini, ku jajah setiap ujaranmu dengan sengitnya.
Tak mampu ku
memelukmu, terlalu kaku saraf ini.
Kau memang
membuatku meneteskan liur saat ku raba bulumu.
Ya, memang aku
sangat puas melirikmu dengan centil dan manjaku. Sampai “tatapanmu melankolis”
aku tak tahu maksudmu. Ku berbalik. Dan ingin mendekapmu. Tapi-terlalu kaku-
aku tak tahu maksudmu. Ku berbalik. Dan ingin mendekapmu. Tapi-terlalu kaku-
Sejenak. Tak
berkata secuil kata pun. Ku mulai membuat bulumu tertiup dengan hembusan
nafasku.
Namun, kau tak
bergerak juga. Malah membiarkanku-memilu-merutuki perkataanku.
Sekadar ingin
menjamahmu, tapi tak tega aku merajut luka di bulumu yang membuatku lena akan
duniaku.
Bangunkan aku! Tak
mampu kelopak mataku ini menahan lapuknya bulumu, walau Cuma satu yang jatuh di
pelupuk mataku.
Itupun ku balut
dengan senja yang kau tabur tadi. Rawan sekali sampai ku hambur biaskan.
Aku menyelam
mengulum bulumu. Walau gatal, tapi tetap ku mengulum mu.
Please don't try so hard to say good-bye....
(07-02-2013)
By: Putri Kartikawati,
Mahasiswi Uneversitas Negeri Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar