Kamis, 21 Februari 2013

cerpen 24


24

Meliukkkan  seluruh bulu yang ada di sekujur tubuh, selalu itu yang kau gunakan untuk memikatku. Menggunakan aji-aji apa kamu, sampai aku mau menyentuh perutmu yang penuh bulu halus?. Aku berpikir, kamu menyentuh raga bukan sekedar raga, tapi jiwa yang kau balut senja. Indah bukan?
Di ruang ini hanya kita berdua. Ulat dan kunang-kunang.
Ruangan ini gelap. Tapi aku mampu memberi cahaya di kornea matamu dengan tubuhku sendiri.
Kau tarik pergelangan tangan ku yang bisa rapuh kapan saja jika terlalu keras kau tarik. Tulus. Ku jambak bulu yang membalut tubuhmu sampai kau rasakan ada tanganku mengulum bulumu.

Terjengkal kala itu dalam bulu yang menutupi dadamu. Kau beri rasa mocca di lidahku kala ku raba bulumu. Aku tahu bukan aku yang seharusnya mencicipi nice mocca karena bulumu.
Mata ku yang besar mencari dirimu di penjuru kegelapan ini. Abadi memori tentang preambule yang kau lontarkan, saat aku terpaku, tertegun melirik matamu.
“jadilah kunang dalam derap nafasku” sahutmu
“apa harus ku koyak langit?” bantah ku
“ langit kan menerima jasadmu menyatu dengan jasadku. Hembuskan nafasmu lewat paru-paruku. Alirkan berjuta hemoglobin yang kau balut senja ke tubuhku. Ku ingin kecup itu.”
Terdiam. Kelu rasanya menerima koyakan darimu.
Tapi apalah yang diterima. Hujan pun tak merestui.
Ku usap segala ujaranku. Tertunduk ku dibawah kakimu. Menghambamu. Ya, aku menghambamu. Luluh karena ujaranmu. Kau pekat dalam beningku. Tapi aku tak dapat memiliki bulumu. Hanya mampu mencicipimu.
Berjuta caramel leleh saat di depan para hantu, kau dekap aku dengan bulumu. Hangat. Tapi apalah, bulumu bukan milikku.
Aku selalu bergumam “bukan lelucon kah ini?”
tapi kekonyolan itu kau rimbakkan dengan-sekali lagi dengan bulumu-ini.
Dengan alunan nada ini, ku jajah setiap ujaranmu dengan sengitnya.
Tak mampu ku memelukmu, terlalu kaku saraf ini.
Kau memang membuatku meneteskan liur saat ku raba bulumu.
Ya, memang aku sangat puas melirikmu dengan centil dan manjaku. Sampai “tatapanmu melankolis”
aku tak tahu maksudmu. Ku berbalik. Dan ingin mendekapmu. Tapi-terlalu kaku-
Sejenak. Tak berkata secuil kata pun. Ku mulai membuat bulumu tertiup dengan hembusan nafasku.
Namun, kau tak bergerak juga. Malah membiarkanku-memilu-merutuki perkataanku.
Sekadar ingin menjamahmu, tapi tak tega aku merajut luka di bulumu yang membuatku lena akan duniaku.
Bangunkan aku! Tak mampu kelopak mataku ini menahan lapuknya bulumu, walau Cuma satu yang jatuh di pelupuk mataku.
Itupun ku balut dengan senja yang kau tabur tadi. Rawan sekali sampai ku hambur biaskan.
Aku menyelam mengulum bulumu. Walau gatal, tapi tetap ku mengulum mu.

Please don't try so hard to say good-bye....

(07-02-2013)
By: Putri Kartikawati,
Mahasiswi Uneversitas Negeri Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar